Murid sedang menyantap makanan gratis (foto: ilustrasi)
Oleh: Sam Heri
Tidak banyak yang menolak tujuan Program Makan Bergizi Gratis. Memberikan makanan sehat kepada anak-anak merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa.
Namun sebuah program besar tidak cukup hanya memiliki tujuan mulia. Ia juga harus dikelola dengan baik.
Dalam beberapa waktu terakhir, muncul sejumlah laporan mengenai kualitas makanan, distribusi, dan pengawasan pelaksanaan program di lapangan. Berbagai pihak menilai tata kelola dan kontrol kualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diperbaiki.
Kita harus jujur mengakui bahwa program sebesar ini bukan pekerjaan sederhana. Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan kondisi geografis yang beragam.
Menyediakan makanan setiap hari kepada jutaan siswa membutuhkan rantai distribusi yang kuat, pengawasan ketat, dan sumber daya manusia yang memadai.
Karena itu, kritik terhadap pelaksanaan program tidak seharusnya dipandang sebagai upaya menggagalkan program. Kritik justru diperlukan agar program berjalan lebih baik.
Masyarakat tentu ingin melihat anak-anak mendapatkan makanan yang benar-benar sehat, aman, dan bergizi. Orang tua juga ingin memastikan bahwa dana negara yang sangat besar digunakan secara efektif dan tepat sasaran.
Pemerintah perlu membuka ruang evaluasi yang lebih luas. Pengawasan tidak boleh hanya berasal dari lembaga pemerintah. Sekolah, orang tua, media, dan masyarakat sipil harus diberi kesempatan untuk ikut mengawasi.
Program besar akan selalu menghadapi tantangan. Yang membedakan program berhasil dan gagal adalah kemauan untuk memperbaiki kekurangan.
Jika pengawasan diperkuat dan evaluasi dilakukan secara terbuka, Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi salah satu warisan kebijakan yang paling berdampak bagi generasi mendatang.