Pemerintah Desa Puger Kulon menggelar Rembug Stunting sebagai dasar penyusunan program pencegahan dan penanganan stunting dalam APBDes 2027, Rabu (29/07/2026).
Jember – Pemerintah Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember menggelar Rembug Stunting sebagai bagian dari penyusunan rencana kegiatan pencegahan dan penanganan stunting dalam APBDes 2027, Rabu (29/07/2026).
Kegiatan digelar di pendopo desa ini menitikberatkan pada evaluasi penyebab stunting sekaligus penyusunan langkah penanganan yang lebih efektif.
Rembug Stunting dihadiri Kepala Desa Puger Kulon Nurhasan, perwakilan kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pendamping desa, bidan, dan kader kesehatan.
Kepala Desa Puger Kulon, Nurhasan, menilai desa memiliki potensi besar untuk menekan angka stunting. Menurutnya, Puger merupakan daerah penghasil ikan laut yang kaya protein sehingga menjadi modal penting dalam meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat.
"Puger adalah penghasil ikan laut yang berprotein tinggi. Hal ini menjadi modal utama dalam penurunan stunting," ujar Nurhasan.
Ia berharap bidan bersama seluruh pihak terkait mampu terus menekan angka stunting di Desa Puger Kulon. Bahkan, ia menargetkan angka stunting menjadi yang terendah di tingkat kecamatan, atau jika memungkinkan mencapai nol kasus.
Ketua BPD Puger Kulon, Nurdiyanto, menekankan pentingnya evaluasi sebelum menentukan program penanganan. Menurutnya, penyebab stunting harus dipetakan agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.
Sementara bidan desa Puger Kulon menjelaskan sejumlah faktor yang dapat memicu stunting. Di antaranya pernikahan usia dini, kondisi ekonomi keluarga, pola asuh, kelahiran prematur, penyakit bawaan, alergi makanan, serta kurangnya pengetahuan mengenai gizi.
"Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan serta menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan usianya." Jelasnya.
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun. Pencegahannya memerlukan pemenuhan gizi seimbang, pemantauan kesehatan ibu dan anak, sanitasi yang baik, serta edukasi kepada keluarga. (sam)
----------------
Punya informasi, aspirasi, atau peristiwa di sekitar Anda? Kirimkan laporan, foto, atau video ke Redaksi Katapublik.com melalui WhatsApp atau email. Setiap informasi akan kami verifikasi sebelum dipublikasikan.
