Notification

×

Iklan

Iklan

Desa Lojejer Gelar Parade Culture Village Nusantara IV, Usung Tema Anuraga di HUT ke-81 RI

| Minggu, Agustus 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-31T03:45:26Z

 

Peserta kirab Parade Culture Village Nusantara IV di Desa Lojejer mengenakan busana adat
Penampilan Kepala Desa Lojejer, M. Soleh bersama istri dalam Parade Culture Village Nusantara IV, Sabtu (29/08/2026) 



Wuluhan-Jember, katapublik.com -- Pemerintah Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, menggelar Parade Culture Village Nusantara IV pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kirab budaya bertema Anuraga ini menjadi puncak rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di desa tersebut. Acara diikuti sekitar 1.500 peserta yang mengenakan busana budaya bertema Bhinneka Tunggal Ika.


Sepanjang jalur kirab sejauh tiga kilometer, umbul-umbul merah putih dipasang berjarak sepuluh meter di setiap tiang. Iringan musik dan sorotan lampu warna-warni turut menyemarakkan suasana malam kirab. Panitia juga menggelar karpet merah sepanjang seratus meter untuk mendukung penampilan peserta.


Pengamanan acara melibatkan unsur TNI, Polri, dan organisasi masyarakat setempat. Petugas bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan jalannya acara hingga selesai.


Kepala Desa Lojejer, Mohamad Sholeh, S.H., M.Si. menjelaskan makna tema Anuraga. Ia mengatakan istilah tersebut berasal dari bahasa Sansekerta.


"Anuraga itu merupakan cinta yang mendalam, keterikatan, penuh kasih sayang, kesetiaan dan pengabdian, anuraga kita ambil dari bahasa sansekerta," tutur Sholeh saat diwawancarai awak media sebelum melepas peserta kirab Budaya.


Menurut Sholeh, makna tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat Desa Lojejer. Ia berharap warga terus menjaga sikap saling mencintai dan menghargai. Nilai itu juga diharapkan tumbuh dalam hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat.


"Dengan saling mencintai dan menghargai, kita bisa m memberikan kasih sayang dan pengabdian yang tinggi, baik kepada masyarakat maupun dalam kehidupan bersama," imbuhnya.


Pesan harmoni juga tercermin dari busana yang dikenakan Sholeh bersama istrinya. Keduanya mengenakan busana adat Jawa Barat asal Ciamis bernama Bebegig Sukamantri. Sholeh menyebut busana itu memiliki filosofi hubungan manusia dengan alam.


"Baju bebegig ini untuk menjaga alam, jadi harmoni sosial agar supaya hidup rukun, damai untuk alam semesta," pungkasnya.


Ketua Koordinator Panitia Parade Culture Village Nusantara IV, Sugeng Hariadi, menyatakan karnaval pada 29 Agustus menjadi puncak seluruh rangkaian acara. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 25 Agustus.


"Karnaval hari ini adalah puncaknya, setelah empat hari berturut-turut sejak tanggal 25 Agustus kemarin," kata Sugeng.


Rangkaian acara dimulai pada 25 Agustus dengan karnaval tingkat HIMPAUDI, TK, dan PAUD. Sehari berikutnya giliran peserta tingkat SD dan MI tampil memeriahkan acara. Rangkaian dilanjutkan berbagai kegiatan seni dan hiburan sebelum ditutup parade umum.


Jumlah peserta parade puncak sebanyak 1.500 orang terdiri dari unsur pemerintah desa, RW, sekolah, madrasah, hingga MTs.  Sebanyak  15 kontingen mengambil bagian di sesi ini. 


Setiap kontingen menampilkan cerita melalui kostum, atraksi, dan drama kolosal sejarah. Di depan tenda kehormatan, peserta menampilkan kisah kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Warga menyaksikan sepanjang jalur mulai dari titik pemberangkatan hingga garis akhir. (heri) 

---------

Punya informasi, aspirasi, atau peristiwa di sekitar Anda? Kirimkan laporan, foto, atau video ke Redaksi Katapublik.com melalui WhatsApp atau email. Setiap informasi akan kami verifikasi sebelum dipublikasikan.



Kehadiran warga dan pengunjung turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pelaku UMKM memanfaatkan momentum untuk menjajakan makanan, minuman, dan produk lain di sepanjang lokasi acara.

×
Berita Terbaru Update